Langsung ke konten utama

Postingan

Semua.

Senja di pelabuhan tua Terasa semua berbeda Aku ingin berlari sekencang kencangnya Dan di dimensi imaji berlabuhnya Ku definisikan tentang semua Semua yang mempunyai mantra Semua yang menimbulkan bahaya Dan semua Yang ada disana Batas diafragma melepuh Dada seperti sesak menekan Tulang tengkorak tersayat Langkah kaki berhenti melangkah Semua terasa lemah Seperti tidak ada asupan Dan semangat yang mengikat Emosi hati tumpah ruah Ku terdiam melihat cahaya merah Yang berubah menjadi hitam gelap Ku harap akan datang bulan dan bintang Tetapi yang datang adalah kegelapan Kutinggalkan tempat itu Tapi tak bisa Tidak ada cahaya menyinari Gelapnya malam itu Menatap langit dan seluruhnya Dengan kegelapan yang ada Menunggu Cahaya Yang dapat membawa ku pulang

Intuisi.

Tertidur menjelang datangnya fajar Tak terasa sinar cakrawala Datang menembus bilik Gravitasi sirna dari kasur itu Memulai pagi dengan senyuman Intuisi berkata untuk menaungi Tapi kesaksian berceloteh tidak Ini yang selalu terbit Setelah indahnya cakrawala Hal yang datang Namun sangat tak ingin ini datang Karena ini mengoyak Mengoyak senyuman legit Memusnahkan afeksi Intuisi yang selalu salah

Dimensi kedua

Terik sang Surya datang Membakar isi kepala Bagai perapian yang sempurna Dengan bara yang dimilikinya Kian hari sama saja Menjadi sulit hidup dibuatnya Ingin rasanya pergi Pergi ke dimensi kedua Yang berbeda dengan sebelumnya Lebih membuat lega Tapi tidak sementara Dimensi kedua untuk selamanya Menyuguhkan segalanya Tapi tidak kembali terbakar oleh sang Surya Memberi  atensi yang sama Dia tidak menarik lagi apa yang ada Seperti lebih mudah di dimensi kedua Dengan melihat yang ada Tapi itu tidak bisa Harus tetap di sini dengan menjalaninya

Empat Kali.

Semua berjalan sangat cepat Aku tidak tahu akan bagaimana Sudah tiga kali jatuh Pada jalan yang sama Harapan ku gantungkan Doa ku panjatkan Waktu jadi pacuan Pikiran menjadi korban Disana lah letakku Jauh dari garis khatulistiwa Sedikit mendekat dengan samudera Ditempat yang tenang Hari kesaksian tiba Aku harus tahu dimana ku berlabuh Di langkah ku ini Aku kembali terjauh Sudah menjadi kebiasaan Jatuh dijalan yang sama Ini lah yang terjadi Berhenti pada titik ini Kembali berputar Tidak bisa berlari Itu tidak mudah Dengan merangkak ku melangkah

Realita jiwa.

Rembulan malam bersinar Burung pun berhenti berkicau Alam menyembunyikan cantiknya Gelap malam bersatu Dengan realita jiwa Yang semakin memudar Karena terjangan ombak Ombak yang tak henti Menerpa langkah kaki Semakin sulit untuk melangkah Terhalang realita jiwa Ditengah kesejukan angin Terjadi badai besar itu Disaat bunga itu mekar Lalu terhempas angin Yang menyisakan Tanaman yang kembali seperti awalnya Hanya berdaun tak berbunga Penaka realita jiwa

Menetap

Aku bukan rintik hujan Yang datang Menghabiskan awan hitamnya Setelah cerah ia pergi Aku bukan kucing yang kelaparan Yang datang kepada pemiliknya Ketika ingin makan Dan pergi jauh setelah kenyang Aku hanya menjadi akar Yang tidak pernah Meninggalkan batangnya Walau ia semakin jauh Aku hanya menjadi kaki Yang tidak pernah Meninggalkan tubuh Walau berjalan jauh aku jadikan kau kerajaan Sebagai tempat menetap Bukan sebagai halte Sebagai tempat persinggahan

"Angan dan harapan"

Aku menger ti... Aku bukanlah siapa siapa Aku ini.. Hanyalah seorang lelaki            Seorang lelaki yang selalu menunggu keajaiban datang            Menunggu saat itu tiba            Dan berharap semua keajaiban itu terjadi Aku mengerti... Aku bukan lelaki yang bisa diharap kan Aku bukan lelaki yang memiliki segala nya Tapi aku akan bersamamu            Bersama saat apapun            Aku siap menjadi penjaga saat kau perlu            Yang dapat menjagamu setiap waktu            Dan apapun yang terjadi Aku menge rti... Aku hanya berharap semua ini Tapi aku ingin Semua itu terjadi dihidupku bukan hanya angan semat a.