Langsung ke konten utama

Postingan

AKU MANUSIA

Aku tahu ku tak sempurna Kekurangan ku dominan Dibanding kelebihan ku Aku tahu ituu Aku mungkin tidak manusiawi Tidak mengerti apa itu romantis Pengetahuan ku nihil tentang itu Karena terlalu banyak kekecewaan dilintasi Aku manusia tanpa talenta Berpikir cara membahagiakan Tapi tidak bisa terwujud Karena kekosongan ilmu Aku mungkin bodoh Itu sebabnya ketidak sempurnaan Hanya bisa membantu Disaat kau perlu Maaf aku tak seperti yang lain Aku menyimpan rasa cemburu? Iya itu selalu terasa

Reaksi Hidup

Ditanah lapang dengan warna merah Disaat membicarakan kehidupan Pikiran seolah selalu berkata Bahwa hidup itu tidak pernah adil Reaksi hidup kurang berkesan Dengan semua plot yang disiapkan tuhan Dengan semua yang ada dijalan Dan dengan semua kejujuran Selalu merasa sendiri tanpa wanita Seolah wanita adalah pencipta Dari segala kebahagian yang ada Hidup hampa tanpa adanya dia Jalan liku penuh jurang ada di hadapan Dengan semua harapan di depan Tapi angan tidak sesuai kenyataan Tariklah bibir mu jangan ada kerutan Walaupun hujan turun dari mata kehidupan

Sirna

Waktu ke waktu aku bersamamu Dengan sebuah perasaan Perasaan yang tak dapat ku utarakan Hanya dapat aku rasakan Ku harapkan kau juga seperti ku Memiliki rasa cinta dan sayang Agar dapat saling menyayangi Mengukir setiap kebahagiaan ini Tapi kau tidak menatap wajahku Kamu hanya menatap punggung pria didepanmu Dan aku menatap punggung mu Selalu mengharapkan kamu menengok kearahku Dengan itu kau membuat perasaan ini sirna Sehingga ku tidak memiliki cinta Dan lebih baik sendiri tanpa cinta Karena cinta sudah sirna

Semua.

Senja di pelabuhan tua Terasa semua berbeda Aku ingin berlari sekencang kencangnya Dan di dimensi imaji berlabuhnya Ku definisikan tentang semua Semua yang mempunyai mantra Semua yang menimbulkan bahaya Dan semua Yang ada disana Batas diafragma melepuh Dada seperti sesak menekan Tulang tengkorak tersayat Langkah kaki berhenti melangkah Semua terasa lemah Seperti tidak ada asupan Dan semangat yang mengikat Emosi hati tumpah ruah Ku terdiam melihat cahaya merah Yang berubah menjadi hitam gelap Ku harap akan datang bulan dan bintang Tetapi yang datang adalah kegelapan Kutinggalkan tempat itu Tapi tak bisa Tidak ada cahaya menyinari Gelapnya malam itu Menatap langit dan seluruhnya Dengan kegelapan yang ada Menunggu Cahaya Yang dapat membawa ku pulang

Intuisi.

Tertidur menjelang datangnya fajar Tak terasa sinar cakrawala Datang menembus bilik Gravitasi sirna dari kasur itu Memulai pagi dengan senyuman Intuisi berkata untuk menaungi Tapi kesaksian berceloteh tidak Ini yang selalu terbit Setelah indahnya cakrawala Hal yang datang Namun sangat tak ingin ini datang Karena ini mengoyak Mengoyak senyuman legit Memusnahkan afeksi Intuisi yang selalu salah

Dimensi kedua

Terik sang Surya datang Membakar isi kepala Bagai perapian yang sempurna Dengan bara yang dimilikinya Kian hari sama saja Menjadi sulit hidup dibuatnya Ingin rasanya pergi Pergi ke dimensi kedua Yang berbeda dengan sebelumnya Lebih membuat lega Tapi tidak sementara Dimensi kedua untuk selamanya Menyuguhkan segalanya Tapi tidak kembali terbakar oleh sang Surya Memberi  atensi yang sama Dia tidak menarik lagi apa yang ada Seperti lebih mudah di dimensi kedua Dengan melihat yang ada Tapi itu tidak bisa Harus tetap di sini dengan menjalaninya

Empat Kali.

Semua berjalan sangat cepat Aku tidak tahu akan bagaimana Sudah tiga kali jatuh Pada jalan yang sama Harapan ku gantungkan Doa ku panjatkan Waktu jadi pacuan Pikiran menjadi korban Disana lah letakku Jauh dari garis khatulistiwa Sedikit mendekat dengan samudera Ditempat yang tenang Hari kesaksian tiba Aku harus tahu dimana ku berlabuh Di langkah ku ini Aku kembali terjauh Sudah menjadi kebiasaan Jatuh dijalan yang sama Ini lah yang terjadi Berhenti pada titik ini Kembali berputar Tidak bisa berlari Itu tidak mudah Dengan merangkak ku melangkah